Tak lagi semata mengejar benefit, investasi berbasis peduli lingkungan menjadi tren baru. Green Fund Investment, namanya. Para manajer investasi dunia pun mulai merilis reksadana baru ini. Bagaimana Indonesia?
Green fund atau reksadana sosial. Begitulah nama jenis
investasi yang sedang dipergunjingkan itu. Sesuai dengan namanya, produk
investasi ini tak hanya menawarkan keuntungan semata.
Green fund atau reksadana sosial ini ini juga memiliki niat mulia, yaitu menyumbangkan sebagian keuntungan
(return) investasi untuk program pelestarian lingkungan.
Sebagai bentuk kepedulian sekaligus partisipasinya terhadap
pelestarian lingkungan, manajer investasi tak lagi membenamkan dananya
di sembarang tempat maupun jenis investasi pada lazimnya. Produk
reksadana atau produk investasi ini hanya akan berinvestasi pada
surat-surat berharga terbitan perusahaan-perusahaan yang ramah
lingkungan.
Kemunculan
green fund sebagai salah satu bentuk diversifikasi
investasi baru belakangan ini muncul seiring dengan tren dunia yang
mulai peduli pada lingkungan. Arah ekonomi dan investasi pun mulai
terarah pada investasi peduli lingkungan. Investasi model inilah yang
tengah marak dilakukan perusahaan-perusahaan di Eropa.
Walhasil, dunia pelestarian lingkungan kini tak hanya didominasi oleh
kegiatan di lapangan. Tahun 2010 yang juga dikenal sebagai Tahun
Keanekaragaman Hayati Internasional dan dampak perubahan iklim yang
sudah terasa di mana-mana,mengetuk rasa kepedulian dunia usaha untuk
melakukan hal berarti bagi bumi yang lestari. Dunia usaha berpandangan,
sudah saatnya mereka melakukan aksi penyelamatan bumi. Salah satu
caranya melalui sisi ekonomi yaitu investasi dalam bentuk pengembangan
investasi yang berkelanjutan.
Secara umum, ada dua strategi utama yang bisa ditempuh oleh reksadana
sosial ini. Yang pertama adalah strategi yang menghindari surat
berharga terbitan perusahaan-perusahaan yang masuk dalam kategori
negatif. Misalnya, perusahaan pembuat senjata, alkohol, perusahaan judi,
perusahaan pornografi, dan seterusnya.
Yang kedua, ada pula reksadana yang menerapkan strategi memilih
surat-surat berharga perusahaan yang ramah lingkungan. Contohnya,
perusahaan yang memakai energi alternatif, menerapkan pengelolaan
limbah, serta berbagai aktivitas pelestarian dan pemanfaatan
keanekaragaman hayati di Indonesia secara berkelanjutan. Di samping itu,
reksadana sosial juga memungkinkan para investor untuk mengelola
dananya pada perusahaan yang melakukan aktivitas sosial seperti
penanggulangan bencana alam, banjir, kebakaran, dan sebagainya.
Di Indonesia, salah satu manajer investasi yang gencar menjajakan produk
green fund adalah
PT Bahana TCW Investment Management. Bahana TCW mengelola empat produk
reksadana sosial. Salah satunya adalah Reksadana Kehati Lestari, yang
ditujukan bagi para investor pribadi maupun perusahaan untuk turut serta
melestarikan lingkungan.
Dalam hal ini, Bahana TCW bekerjasama dengan Yayasan Kehati. Untuk memenuhi kriteria
green fund,
Kehati Lestari menginvestasikan 70% dananya di surat berharga
perusahaan-perusahaan yang ramah lingkungan. Yayasan Kehati menjadi
lembaga yang menentukan kriteria-kriteria perusahaan yang ramah
lingkungan tersebut.
Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati) merupakan sebuah
lembaga penyandang dana nirlaba dan mandiri. Lembaga ini bertujuan untuk
memberi dukungan sumber daya dan memfasilitasi berbagai aktivitas
pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati di Indonesia secara
berkelanjutan.
Guna melempangkan niat tulus ini, Kehati juga menggandeng PT. Mega
Capital Indonesia (MCI) dengan meluncurkan Reksa Dana Mega SRI KEHATI
Harmoni.
Keduanya berjalin kelindan dan mengajak investor untuk
berivestasi sekaligus menyelamatkan bumi. Produk ini juga dibentuk untuk
dapat memberikan tambahan informasi bagi masyarakat agar bisa
menginvestasikan dananya pada industri atau perusahaan yang ramah
lingkungan.
Tak jauh beda dengan reksadana sebelumnya, konsep investasi model ini
dapat dilakukan secara perorangan maupun perusahaan demi mendukung
pelestarian keanekaragaman hayati. Hal ini dilakukan selaras dengan
visi, misi, serta peran Kehati, yaitu menjembatani antara dunia usaha
dengan upaya pelestarian keanekaragaman hayati. Organisasi nirlaba ini
juga terus aktif mengajak para fund manager untuk bekerja sama
mengembangkan produk-produk investasi sejenis sebagai wadah investasi
bagi masyarakat dan tentunya bermanfaat bagi pelestarian lingkungan.
Dengan pilihan investasi ini, masyarakat bisa berinvestasi sekaligus
ikut dalam upaya aksi pelestarian lingkungan. Aksi ini sejalan dengan
program pemerintah Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kacanya
hingga 26% dalam satu dekade ke depan. Angka penurunan ini, separuhnya
akan ditempuh (sekitar 14%) melalui rehabilitasi kondisi hutan tropis di
Indonesia, antara lain dengan penanaman kembali (reboisasi), restorasi
ekosistem, mencegah kebakaran hutan, dan lain sebagainya.
Reksadana berjenis campuran ini memiliki komposisi portofolio minimum
10% dan maksimum 79% pada efek bersifat utang dan sejenisnya serta pada
saham dan sejenisnya. Sedangkan komposisi pada instrumen pasar uang
minimum 5% dan maksimum 79%, baik dalam mata uang rupiah maupun asing.
Unit penyertaan yang ditawarkan sebanyak-banyaknya satu miliar, dengan
investasi awal minimum Rp 1 juta dan investasi selanjutnya Rp 500 ribu.
Untuk biaya pembelian unit minimum 0,5% dan maksimum 2%, biaya penjualan
kembali minimum 0,25% dan maksimum 1%. Sementara itu, imbal jasa
manajer investasi pun dipatok maksimum 3% per tahun, sedangkan imbalan
jasa bank kustodian sebesar 0,2 % per tahun.
Diharapkan produk ini dapat memperluas pilihan para investor sehingga
tidak lagi berfokus pada aspek finansial dan jangka pendek saja.
Pilihan investasi ini juga memperhatikan aspek sosial dan ekologis dan
pertimbangan jangka panjang lainnya.
Sebagai pilihan investasi yang tergolong baru, hingga saat ini memang
belum ada cukup bukti bahwa reksadana sosial atau green fund ini bisa
menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi dibanding jenis reksadana
lain. Namun, tak ada salahnya Anda meliriknya sebagai pilihan investasi
baru. Sembari bergiat aktif dalam upaya pelestarian alam, tentu.